Tuesday, March 03, 2009

PELAKSANAAN UJIAN TEORI PEMBUATAN SIM DENGAN SISTEM KOMPUTER DI POLWILTABES KOTA BANDUNG

(23 Februari 2009 - 1 Maret 2009)
Polwiltabes Kota Bandung mulai menerapkan sistem komputer Audio Video Integrated System (AVIS) untuk ujian teori pembuatan SIM. Walaupun bukan yang pertama diterapkan di Indonesia, sistem ini merupakan standar internasional yang juga diterapkan di negara-negara maju, seperti Belanda, Jepang, dan Singapura. Penggunaan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi, keefektifan, keefisienan dalam proses pembuatan SIM di Kota Bandung.
Polwiltabes Kota Bandung akan mengganti pelaksanaan ujian teori pembuatan surat izin mengemudi (SIM) yang sebelumnya dilakukan secara manual dengan sistem komputerisasi melalui program Audio Visual Integrated System (AVIS). Kasat Lantas Polwiltabes Bandung, AKBP Herukoco menyatakan bahwa sistem tersebut bagian dari upaya polisi melakukan transparasi dalam pengurusan SIM, STNK, dan BPKB sebagai salah satu program quick wins. Menurut Herukoco, program tersebut tidak hanya untuk transparansi, melainkan juga menjadi gambaran dari implementasi kecanggihan teknologi di tubuh Polri. (GM, 20/2/2009).
Melalui sistem ini, penilaian ujian akan lebih transparan, peserta dapat langsung mengetahui print out hasil ujian. Menurut Herukucoro, penerapan sistem ini bisa makin mengefektifkan dan mengefisienkan proses pembuatan SIM, sebelumnya Satlantas Polwiltabes Bandung hanya bisa melayani 100 pengajuan pembuatan SIM, diharapkan setelah penerapan sistem ini, pelayanan terhadap masyarakat yang terlayani bisa bertambah.
Walaupun demikian tidak ada penambahan biaya pembuatan SIM, tarif pembuatan SIM baru tetap Rp. 75.000, belum termasuk biaya asuransi dan kesehatan. Setelah dinyatakan lulus semua tes yang ada, baru peserta membayarkan biayanya ke bank. Sementara itu, yang tidak lulus boleh mencobanya lagi hingga dua kali.
Kelemahan sistem ini, peserta masih memiliki kemungkinan tidak lulus saat ujian, peserta yang tidak lulus dapat mengulanginya hingga beberapa kali, karena ada tuntutan telah dibayarnya biaya pembuatan SIM tersebut. (PR, 22/2/2009).
Satlantas Polwiltabes Kota Bandung akan menerapkan ujian teori pembuatan SIM dengan menggunakan sistem digital. Sistem ini menggunakan program komputerisasi yang disebut Audio Visual Integrated System (AVIS). Menurut Kasat Lantas Polwiltabes Kota Bandung, AKBP Herukucoro, penerapan ini bisa mengefektifkan dan mengefisienkan proses pembuatan SIM.
Sistem ini menurut Kasat Lantas Polwiltabes Bandung, merupakan bagian dari upaya transparansi dalam pengurusan SIM, STNK, dan BPKB, yang merupakan salah satu program quick wins.
Quick wins adalah peningkatan layanan publik Polri terhadap masyarakat dalam bentuk quick respons, yaitu respons secara cepat, tanggap terhadap permasalahan masyarakat dan zero complain yaitu meminimalisasi keluhan masyarakat terhadap Polri. (detik.com)
Penggunaan teknologi untuk proses ujian teori pembuatan SIM dapat meningkatkan transparansi, karena peserta ujian dapat langsung melihat print out hasilnya apakah lulus atau tidak. Selain itu, sistem ini juga dapat meningkatkan efektifitas, dan efesiensi proses pembuatan SIM. Peserta ujian hanya menekan tombol untuk menjawab soal ujian dan waktu ujian teori proses pembuatan SIM dapat dipersingkat.
Dengan menggunakan alat bantu AVIS yang berbasis multimedia, peserta ujian lebih mudah membayangkan seakan-akan mereka sedang berada di jalan raya, karena peserta ujian melihat layar yang menayangkan simulasi lalu lintas di jalan raya dan mendengar suara-suara yang biasa terdengar di jalan raya. Jika dibandingkan dengan ujian tertulis yang dipakai sebelumnya, peserta yang mengerjakan soal tertulis akan lebih sukar untuk membayangkan sedang mengemudikan kendaraan. Dengan demikian penggunaan sistem ini lebih baik dari sisi simulasi daripada sistem yang lama.
Menurut Kababinkam Mabes Polri Komjen Imam Hariyatna, sistem AVIS ini merupakan standar internasional yang telah diadopsi di negara-negara maju, seperti Belanda, Jepang, dan Singapura. Keunggulan sistem ini adalah peningkatan kualitas pengemudi, mendorong tumbuhnya sekolah mengemudi, akuntabel dan transparan, serta menghindari adanya percaloan. Penggunaan sistem ini menandakan bahwa penerapan teknologi di Indonesia tidak tertinggal dengan negara-negara maju. Namun penerapan teknologi yang hanya pada kota-kota besar tertentu saja dapat menyebabkan kesejangan digital di masyarakat. Akses teknologi pada setiap lapisan masyarakat sebaiknya harus merata.
Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam pengurusan pembuatan SIM bagi masyarakat. Namun, penggunaan sistem ini yang sangat membantu proses pelayanan publik juga mempunyai segi kelemahan. Sistem yang memudahkan peserta mengulangi ujian dapat mengurangi kredibilitas proses ujian tersebut. Jika peserta dapat mengikuti kembali dengan mudah bila tidak lulus sampai peserta tersebut lulus, hal itu dapat dimungkinkan karena bukan berdasarkan kemampuan perserta uji dalam menjawab soal yang diujikan.
Dalam penerapan sistem ini juga harus dipertimbangkan dari segi ketergantungan terhadap sistem. Harus ada sistem cadangan yang membackup sistem tersebut jika pada suatu saat sistem tersebut mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut dapat menghambat aktivitas pelayanan publik dalam ujian teori pembuatan SIM.
Diharapkan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik dapat terus dikembangkan, sehingga dapat diterapkan di berbagai aspek kehidupan. Teknologi dapat mempermudah hidup manusia, namun teknologi harus disikapi dengan bijaksana sehingga teknologi tersebut hanya merupakan suatu alat bantu bukan merupakan tujuan.
Penggunaan sistem digital dalam ujian teori pembuatan SIM yang dilakukan Satlantas Polwiltabes Bandung merupakan langkah yang baik dalam menerapkan teknologi terkini, diharapkan penggunaan sistem ini dapat diterapkan di bidang pelayanan publik lainnya.
Sistem ini juga perlu dipertimbangkan cadangannya agar tidak menyulitkan jika terdapat kegagalan sistem.

No comments: